Entri Populer

Kamis, 12 Mei 2011

Proposal pertama Q sebelum konsultasi ^_^


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang subur dan kaya akan jenis tumbuh-tumbuhan. Berbagai tumbuhan tumbuh di negeri yang subur ini, mulai dari tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias, makanan dan bahan obat-obatan. Sayangnya masyarakat kita masih belum begitu tahu bahwa dibalik semua kekayaan itu tersimpan manfaat dan khasiat lain yang besar dari dari tanaman tersebut.
Saat ini pengobatan herbal banyak diminati baik dinegara berkembang maupun negara maju. Ada beberapa tanaman yang berfungsi sebagai antioksidan dan bisa mencegah terjangkitnya penyakit menular, baik yang disebabkan oleh bakteri ataupun virus.
Tanaman herbal sudah diterima sebagai obat alternative dan bahkan secara resmi dianjurkan untuk digunakan oleh praktisi di dunia kesehatan, bahkan dianjurkan oleh pemerintah agar para dokter menggunakan obat asli Indonesia berupa obat tradisional tanaman obat. Perusahaan-perusahaan farmasi yang selama ini merupakan produsen obat kimia sudah mulai memprodukai obat dengan bahan baku tanaman obat dengan resep tradisional. Tanaman herba mulai diterima kembali oleh masyarakat sebagai pengobatan alternatif dan cara pemeliharaan kesehatan yang alamiah dan aman.
Menurut Undang-undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Obat tradisional merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Teh herbal sebutan untuk ramuan bunga, daun, biji, akar, atau buah kering untuk membuat minuman yang juga disebut teh herbal. Walaupun disebut "teh", teh herbal tidak mengandung daun dari tanaman teh (Camellia sinensis).
Teh herbal telah digunakan dalam sistem pengobatan tradisional. Selain untuk menenangkan diri, para akar herbal telah meresepkan teh kaya antioksidan ini untuk mengatasi beragam gangguan kesehatan.
Kacapiring (Gardenia augusta Merr.) merupakan jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Daun dari tanaman kacapiring (Gardenia augusta Merr.) mengandung saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri.
Penggunaan herba kacapiring (Gardenia augusta Merr.) untuk mengatasi demam, hepatitis, radang selaput lndir kandung kencing (cystitis), radang payudara (mastitis), susah tidur (insomnia), sakitbtenggorokan, sariawan, sakit gigi, disentri, mata bengkak dan nyeri, serta hipertensi.
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Khamir merupakan bagian dari kelompok kapang dan dibedakan dari hampir semua jamur yang lain oleh sifatnya yaitu bersel tunggal dan membelah diri secara bertunas.
Melihat banyaknya yang beralih atau menggemari produk alam sebagai obat alternatif, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang pembuatan teh herba tumbuhan kacapiring (Gardenia augusta Merr.).
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1.    Apakah terdapat kapang dan khamir pada pembuatan teh herbal tumbuhan kacapiring ?
2.    Apakah analisa mutu teh herbal seperti keadaan kantong, keadaan seduhan dan kadar air sudah termasuk dalam standar ?
C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini, peneliti membatasi sampel pada tumbuhan kacapiring untuk pembuatan teh herbal.
D. Rumusan Masalah
Apakah ada teridentifikasi kapang dan khamir pada pembuatan teh herbal tumbuhan kacapiring ?

E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah ada teridentifikasi kapang dan khamir pada pembuatan teh herbal tumbuhan kacapiring (Gardenia augusta Merr.).
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian in antara lain sebagai berikut :
1.  Secara Teoritis
Secara teoritis diharapkan dapat berguna bagi perkembangan pendidikan dalam ilmu kesehatan terutama dalam bidang pengolahan obat tradisional.
2.  Secara Praktik
Penulisan ini diarahkan agar dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengolah tumbuhan sekitar yang bermanfaat untuk pengobatan.








BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Tanaman Kacapiring
a. Klasifikasi tumbuhan
Kingdom       : Plantae
Divisi                        : Magnoliophyta
Kelas             : Magnoliopsida
Ordo             : Rubiales
Famili            : Rubiaceae
Genus            : Gardenia
Spesies          : G. augusta

b. Nama Daerah Tumbuhan
Sumatera                   : Meulu bruek, raja putih (Aceh)
Jawa                           : kacapiring (sunda), kacapiring, peciring, cepiring, ceplokpiring (Jawa)
Maluku                      : Kacapiring, sangklapa.
Nusa Tenggara          : Jempiring (Bali)
c. Uraian Tumbuhan
Kacapiring berasal dari Cina dan Jepang. Bisa ditemukan sebagai tanaman hias dipekarangan pada daerah pegunungan dengan ketinggian 400 m dpl dan baru berbuah jika ketinggian sekitar 3.000 kaki dpl.
Perdu tegak dengan tinggi 1-2 m ini mempunyai batang bulat berkayu, bercabang, ranting muda, dan daunnya berlapis lilin. Daun letaknya berhadapan atau berkarang tiga, tebal dan licin seperti kulit, bertangkai pendek, bentuknya elips atau bulat telur sungsang, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan atas mengkilap, panjang 4,5-13 cm, lebar 2-5 cm, warnanya hijau tua. Bunga tunggal, bertangkai pendek, warnanya putih, keluar dari ujung ranting, baunya harum. Buah bentuknya bulat telur, kulitnya tipis, mengandung pigmen berwarna kuning, dan berbiji banyak.
Di Cina bunganya digunakan sebagai penambah rasa pada daun the. Buahnya bisa dimakan dan dapat digunakan sebagai pewarna kuning pada makanan (seperti kunyit). Perbanyakan dengan biji, cangkok atau stek batang.
d. Kandungan Kimia
Buah mengandung minyak atsiri, gardenin (C14H12O6 atau C23H30O10), gardenosid, geniposid (genipin-1-glukoside), genipin-1-β-D-gentiobioside, gardoside (8,10-dehydrologanin), scandoside methyl ester, glikosid, β-sitosterol, α-mannitol, nonacosane, krosetin, krosin (C44H64O24), klorogenin, tannin, dan dekstrose. Gardenin adalah kristal berwarna kuning emas, larut dalam alcohol dan kloroform. Kulit buah mengandung ursolic acid. Daun mengandung saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri.
e.  Indikasi
Buah kacapiring digunakan untuk mengatasi :
§   Penyakit dengan demam yang memberikan gejala demam tinggi, mudah tersinggung, delirium, gangguan kesadaran.
§   Radang hati (hepatitis), sakit kuning (jaundice) disertai demam, tidak nafsu makan, air kencing sedikit (oliguria), dan kencing sakit (disuria),
§   Radang selaput lendir  kandung kencing (cystitis),
§   Radang payudara (mastitis),
§   Pendarahan akibat darah panas seperti muntah darah (hematemesis), kencing darah (hematuria), berak darah, batuk darah (hemoptisis), mimisan (epstaksis),
§   Susah tidur (insomnia),
§   Sakit tenggorokan, sariawan, sakit gigi,
§   Disentri, gigitan ular,
§   Mata bengkak dan nyeri (congjungtivitis akut), dan
§   Tekanan darah tinggi (hipertensi).

Daun kacapiring digunakan untuk mengatasi :
§   Demam,
§   Sesak napas,
§   Tekanan darah tinggi (hipertensi), dan
§   Sariawan (obat kumur).
2.  Tinjauan Teh Herbal
a.  Pengertian Teh Herbal
Teh herbal sebutan untuk ramuan bunga, daun, biji, akar, atau buah kering untuk membuat minuman yang juga disebut teh herbal. Walaupun disebut "teh", teh herbal tidak mengandung daun dari tanaman teh (Camellia sinensis).
b.  Pemetikan Teh
Di Indonesia petikan hasil teh biasanya dikerjakan dengan meninggalkan daun kepel dan 1 helai daun diatasnya. Adapun bagian yang dipetik, tidak tentu, menurut cara petikan yang dilakukan.
Daun    yang     dipetik  adalah:
1.        Peku: Pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif
2.        Burung: Pucuk/tunas yang sedang istirahat
3.        Kepel: Daun kecil yang terletak di ketiak daun tempat ranting tumbuh.
 Adapun cara petikan itu dibedakan sebagai berikut :
1.  Petikan imperial
Yang dipetik hanya kuncupnya peku saja. Jadi orang tak memikirkan kepada bagian dari tangkai yang ditinggalkan.
2.  Petikan pucuk putih atau petikan pucuk emas
Yang dipetik : kuncup peku dengan 1 helai daun dan yang ditinggalkan daun kepel dengan 1 atau 2 helai daun.
Rumus : p + 1/k + 1 atau p + 1/k + 2.
3.  Petikan halus
Yang dipetik : kuncup peku dan 2 helai daun, sedang yang ditinggalkan kepel dan 1 daun.
Rumus : p + 2 muda/k + 1 atau p + 2/k + 1 dan kuncup bunga dengan 1 helai daun muda. Yang ditinggalkan daun kepel dan 1 helai daun.
Rumus : b + 1 muda/k + 1.
4.  Petikan sedang
Yang dipetik : kuncup peku dan 2 daun dengan meninggalkan daun kepel dan 1 daun, kuncup peku dan 3 daun, antaranya yang termuda masih menggulung dengan meninggalkan kepel dan 1 daun, dan pucuk burung dan 1 daun dengan meninggalkan kepel dan 1 daun.
Rumus :    p + 2/k + 1.
                 P + 3 muda/k + 1.
                 b + 1/k + 1.
5.  Petikan kasar
Yang dipetik : kuncup peku dan 3 daun dengan meninggalkan daun kepel dan 1 daun, dan pucuk burung dan daun dengan meninggalkan daun kepel dan 1 daun.
Rumus :    p + 3/k + 1.
                 P + 3 muda/k + 1.
                 B + 1/k + 1.

6.  Petikan kasar sekali
Yang dipetk : kuncup peku dan 4 daun dengan meninggalkan daun kepel dan 1 daun, dan pucuk burung dan 1 daun dengan meninggalkan daun kepel dan 1 daun.
Rumus :    p + 4/k + 1.
                 B + 1/k + 1.
7.  Petikan Lempar
Petikan ini sebetulnya petikan kasar, akan tetapi dari bahan yang dipetik dasar daun yang ketiga dan pangkal ranting kemudian dibuang.
Rumus :    p + 3 muda/k + 1 dan p + 3/k + 1.


8.  Petikan rompes
Seperti ternyata dalam rumus dibawah, petikan ini juga petikan kasar, akan tetapi dari daun ketiga hanya ¾ bagian yang diambil, sedang yang ¼ ditnggalkan pada ranting dengan daun dan daun kepel.
Rumus :    p + 2 ¾ muda/k + 1 ¼ dan
                 P + 2 ¾/ k+ 1 ¼ .
Rumusan mana yang akan dipakai, tergantung daripada tujuannya. Pungutan kasar akan menambah besarnya produksi, akan tetap pengambilan halus akan mempertinggi kualitet. Kalau saja pengambilan kasar maka kualitetnya rendah, tapi produksinya banyak. Sedangkan kalau pengambilan halus, produksinya sedikit namun kualitetnya tinggi.

c.  Pengolahan
Pengolahan dari daun the yang baru dipetik dan kemudian dijadikan the kering, ini akan melalui beberapa phase pekerjaan yaitu :
·      Melayukan daun :
Daun-daun teh yang baru dipetik dar kebun, masih segar, tidak lemas, karena mengandung banyak air (75-82%). Makin muda daun itu, makin banyak air yang dikandung. Akan tetapi air yang ada di daun-daun muda juga lebih lekas menguap dari pada yang ada di daun-daun tua.
Daun-daun tadi perlu segera dilayukan. Maksudnya supaya daun-daun tadi tidak putus jika nanti digulung, dan pula supaya proses kimia berlngsung baik, jika nanti diperam.
Cara amat sederhana untuk melayukan daun-daun the ialah dengan menghamparkan daun-daun itu ditempat yang teduh dalam lapisan yang tipis. Karena udara beredar, daun-daun itu akan menguapkan airnya dan lambat laun menjadi layu.
Perlu diketahui, bahwa jalnnya proses penguapan mempunyai pengaruh juga atas kwalitas dari teh kering, yang akan dihasilkan. Jika daun-daun terlalu cepat menguapkan airnya dan menjadi layu, teh kering yang dihasilkan, baunya kurang harum. Sebaliknya jika layunya daun-daun terlalu lama, teh kering yang dihasilkan, rasanya kurang sedap. Adapun yang baik melayukan daun-daun teh itu selesai dalam tempo 12-24 jam atau rata-rata 18 jam.
·      Menggulung dan memecah bingkah :
Biasanya daun-daun yang telah layu itu diambil dan dimasukkan kedalam alat-alat penggulungan daun. Karena daun telah layu, maka daun tersebut tak akan remuk melaikan hanya akan menggulung saja. Penggulungan ini juga mempengaruhi akan terjadinya baik buruknya fermentasi.
Kemudian pekerjaan menggulung daun ini juga dibagi menjadi beberapa tingkatan. Yaitu daun-daun bergumpal-gumpal menjadi bingkahan-bingkahan, sering harus dipecah-pecah lagi sambil diayak untuk memisahkan daun-daun yang berukuran besar dengan daun yang berukuran besar dengan daun yang berukuran sedang dan daun yang berukuran kecil. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pekerjaan fermentasi dan juga penjenisan ini dilakukan pada waktu daun masih dalam keadaan basah.
·      Fermentasi
Karena di dalam proses penggulungan, isi dari sel-sel kemudian dimasukkan dan dikeluarkan lagi, kemudian mengalami persenyawaan dengan udara sehingga berubah pula bentuk susunannya, yang tampak keluar dengan perubahan warna dari daun. Kalau tadinya hijau maka berangsur-angsur menjadi coklat kemerah-merahan. Sedangkan aroma teh yang sedappun telah mulai keluar sewaktu diadakan penggulungan, namun lebih jelas lagi setelah pada tingkat fermentasi.
·      Pengeringan :
Setelah mengalami fermentasi, maka daun-daun tersebut dimasukkan dalam mesin pengeringan. Setelah keluar dari mesin tersebut maka daun teh telh benar-benar keering dan warnanyapun telah berubah menjadi hitam.

3.  Tinjauan Kapang dan Khamir
a.  Kapang
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang.
Beberapa kapang dapat langsung bersifat patogenik dan menyebabkan penyakit tanaman dan manusia. Beberapa kapang merupakan penyebab berbagai infeksi pernafasan dan kulit pada manusia. Beberapa jenis lain selama proses pembusukan pangan atau pertumbuhannya dalam bahan pangan dapat memproduksi racun yang dikenal sebagai mikotoksin. Sebagai suatu kelompok zat, mikotoksin dapat menyebabkan gangguan hati, ginjal dan susunan syaraf pusat dari manusia maupun hewan.
·      Morfologi
Berbeda dengan bakteri dan khamir, kapang adalah multiseluler, terdiri dari banyak sel yang bergabung jadi satu. Di bawah mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa, kumpulan hifa ini dikenal sebagai miselium.
Kapang tumbuh dengan cara memperpanjang hifa pada ujungnya, dikenal sebagai pertumbuhan apikal atau pada bagian tengah hifa yang disebut pertumbuhan interkalar. Hifa pada beberapa kapang mempunyai penyekat melintang atau septa dan adanya septa ini dipergunakan untuk identifikasi. Hifa tersebut memanjang di atas atau tebus melalui medium di mana kapang itu tumbuh.
Beberapa bagian hifa terlibat dalam pembentukan spora baik secara aseksual atau proses seksual, dengan perkawinan. Satu hifa dapat menghasilkan eribu-rbu spora aseksual yang tahan terhadap perubahan cuaca yang berlawanan dibandingkan dengan hifa itu sendiri, tetapi tidak setahan endospora bakteri terhadap berbagai tekanan lingkungan. Spora-spora ini dapat terbawa oleh angin, hewan atau air ke tempat-tempat dan substrat baru di mana spora ini akan bergerminasi menjadi miselium baru. Taksonomi kapang merupakan cabang ilmu mikrobiologi yang khusus dan lebih banyak tergantung pada sifat-sifat morfologis dari produksi spora secara aseksual dan seksual.

b. Khamir
·      Bentuk (morfologi)
Khamir adalah mikroorganisme bersel tunggal dengan ukuran antara 5 dan 20 mikron. Biasanya berukuran 5 sampai 10 kali lebih besar dari bakteri. Terdapat berbagai macam bentuk ragi, dan bentuk ini seringkali tergantung pada cara pembelahan selnya. Sel-sel khamr sering dijumpai secara tunggal tetapi apabila anak-anak sel tidak dilepaskan dari induknya setelah pembelahan maka akan terjadi bentuk yang disebut pseudomiselium. Khamir tidak bergerak karena itu tidak mempunyai struktur tambahan di bagian luarnya seperti flagella. Beberapa jenis khamir membentuk kapsul di sebelah luar. Tipe endospora aseksual yang tahan panas seperti yang diproduksi bakteri Bacillus dan Clostridium tidak dihasilkan oleh khamir.
·      Struktur
Seperti bakteri, sel-sel khamir mempunyai lapisan dinding luar yang terdiri dari polisakarida kompleks dan di bawahnya terletak membrane sel. Sitoplasma mengandung suatu inti yang bebas (discrete nucleus) dan bagian yang berisi sejumlah besar cairan yang disebut vakuola. Vakuola dapat terlihat di bawah mikroskop dengan sinar normal.
·      Pertumbuhan
Khamir dapat tumbuh dalam media cair dan padat dengan cara yang sama seperti bakteri. Pembelahan sel terjadi secara aseksual dengan pembentukan tunas suatu proses yang merupakan sifat khas dari khamir. Mula-mula timbul suatu gelembung kecil dari permukaan sel induk. Gelembung ini secara bertahap membesar, dan setelah mencapai ukuran yang sama dengan induknya terjadi pengerutan yang melepaskan tunas dari induknya. Sel yang baru terbentuk selanjutnya akan memasuki tahap pertunasan kembali.
Beberapa jenis khamir dapat berkembang bak secara selsual dan umumnya melibatkan proses perkawinan yang diikuti dengan produksi spora seksual yang disebut askospora dan spora-spora tersebut berada di dalam bentuk kantung yang disebut askus. Biasanya khamir berkembang biak secara  aseksual dan hanya pada kondisi lingkungan tertentu saja akan terjadi perkembangbiakan secara seksual.

·      Taksonomi
Khamir merupakan bagian dari kelompok kapang dan dibedakan dari hampir semua jamur yang lain oleh sifatnya yaitu bersel tunggal dan membelah diri secara bertunas. Pengetahuan yang perlu untuk mikrobiologi hanyalah pengetahuan tentang klasifikasi dalam genus dan spesies. Klasifikasi pada tingkat ini didasarkan atas kemampuanya membentuk spora, bentuk dan jumlah spora yang dihasilkan setiap askus, bentuk sel dan cara perbanyakan sel seperti pertunasan multipolar atau bipolar, pembentukan pseudomiselium dan berbaga ragam uji biokimia dan fisiologis seperti fermentasi gula dan asimilasi serta penggunaan nitrogen. Berdasarkan pada uji-uji tersebut diatas, para ahli taksonomi khamir mengenal sekitar 40 genus khamir yang terdiri dari sekitar 400 spesies yang berbeda.
·      Sumber
 Khamir terutama merupakan organisme yang bersifat saprofitik terdapat pada daun-daun, bunga-bunga dan eksudat dari tanaman. Serangga bertindak sebagai perantara memindahkan khamir dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Khamir dapat diisolasi dari tanah, tetapi cenderung untuk tidak berkembang subur, populasinya dipenuhi oleh khamir yang terdapat pada buah-buahan atau daun-daun yang membusuk. Lingkungan yang bergula dan pH rendah seperti buah-buahan dan sirup merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan khamir. Beberapa spesies dapat bersifat patogenetik bagi manusia dan dapat menyebabkan infeksi kulit pada keadaan-keadaan tertentu. Khamir tidak ditemukan sebagai penyebab penyakit pada manusia karena makanan.
Khamir mempunyai peranan penting dalam industry makanan. Banyak kegiatannya dalam makanan memang dikehendaki dan banyak dimanfaatkan dalam pembuatan bir, anggur, minuman keras, roti dan produk makanan fermentasi.

4. Tinjauan Tentang Kadar Air
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan.
Analisis kadar air menggunakan pengering oven merupakann cara analisis yang paling banyak digunakan karena relatif sederhana. namun demikian, sering ada kesalahan yang diabaikan penelitia yaitu:
1.    Jika suhu oven yang digunakan lebih kecil dari yang seharusnya (105 C) dapat mengakibatkan tidak semua air dalam contoh teruapkan sehingga dapat menyebabkan kadar air yang diperoleh lebih kecil dari yang seharusnya.
2.    Jika suhu oven lebih besar dari yang seharusnya dapat menyebakan kadar air lebih tinggi karena tidak hanya air yang teruapkan akan tetapi minyak atsiri yang mudah menguappun ikut teruapkan
3.    Neraca analtik tidak terkalibrasi juga suhu oven
BAB III
METODOLOGI
A. Tempat dan Waktu
1.    Tempat
Laboratorium Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
2.  Pelaksanaan penelitian studi kasus ini dilaksanakan pada bulan Mei 2011

B. Metode / Pendekatan Penelitian
Metode / pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah laboratory.

C. Populasi dan Sampel
1.  Populasi
Populasi (universe) adalah keseluruhan unit analisis yang karakteristiknya akan diduga.
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah tumbuhan kacapiring.
2.  Sampel
Sampel adalah sebagian populasi yang cirri-cirinya diselidiki atau diukur.
Sampel atau objek yang digunakan pada penelitian ini adalah pucuk kacapiring dan beberapa daun dibawahnya.

D. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik acak sistematis. Teknik ini secara sistematis memilih sampel berdasarkan pola tertentu, misalnya menurut kelipatan angka, alphabet, ataupun sistem lain yang yang identik.



E. Alat dan Bahan
     Alat
1.  Blender
2.  Oven
Bahan
Tumbuhan Kacapiring


F. Prosedur Kerja
·      Pembuatan Teh Herbal
1.  Daun yang sudah dipetik, dicuci hingga bersih kemudian tiriskan.
2.  Di oven pada suhu 95 – 100  ̊C.
3.  Setelah kering, blender daun kacapiring sampai halus.
4.  Masukkan dalam kantong teh dengan berat ± 2 g.

G. Teknik Pengambilan Data
Data diperoleh melalui tes di laboratorium.

H. Teknis Analisis Data
            Pada tahap ini, analisis dilakukan dengan cara pengamatan yaitu mengidentifikasi adanya kapang dan khamir, menganalisa mutu teh herbal seperti keadaan kantong, keadaan seduhan dan kadar air sudah termasuk dalam standar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar